Dunia SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) seringkali diwarnai oleh stereotip gender yang memisahkan jurusan berdasarkan jenis kelamin, menempatkan perempuan di bidang non-teknik seperti Tata Boga atau Administrasi, dan laki-laki mendominasi jurusan teknik. Padahal, fenomena perempuan sukses di jurusan teknik kian meningkat, membuktikan bahwa kemampuan teknis dan logika tidak mengenal jenis kelamin. Mengapa perempuan juga sukses di bidang yang dianggap maskulin ini? Jawabannya terletak pada kesamaan antara talenta dan ketekunan yang dimiliki, didukung oleh perubahan kurikulum yang kini lebih fokus pada kompetensi daripada tradisi.
Salah satu kunci mengapa perempuan juga sukses di jurusan teknik adalah karena kurikulum modern sangat mengandalkan keterampilan digital, presisi, dan problem-solving, bukan semata-mata kekuatan fisik. Sebagai contoh, di SMK Teknik Mesin XYZ di Bandung, siswa perempuan sukses di jurusan teknik Pemesinan menggunakan mesin Computer Numerical Control (CNC). Pengoperasian mesin CNC menuntut ketelitian dalam memasukkan kode program dan pemantauan kualitas, di mana presisi dan detail seringkali menjadi keunggulan alami yang dimiliki siswa perempuan. Berdasarkan catatan sekolah pada tahun ajaran 2024/2025, rata-rata nilai kompetensi siswa perempuan di kelas CNC 5% lebih tinggi dalam hal minimasi defect produk dibandingkan siswa laki-laki.
Untuk melawan stereotip gender, banyak SMK kini secara aktif mempromosikan inklusivitas. Mereka mengadakan workshop pengenalan jurusan yang menargetkan siswa perempuan untuk mencoba praktik di bengkel dan laboratorium. Di SMK Teknik Komputer dan Jaringan di Yogyakarta, mereka memiliki “Klub Coding Perempuan” yang rutin mengadakan pertemuan setiap hari Selasa pukul 15.00. Klub ini bertujuan memberikan mentoring spesifik dan membangun rasa percaya diri di bidang yang didominasi laki-laki. Upaya ini merupakan langkah nyata untuk mengubah persepsi lama.
Kisah sukses alumni menjadi bukti paling kuat. Alumni perempuan sukses di jurusan teknik Elektro dari sebuah SMK di Surabaya, misalnya, kini menjabat sebagai site manager di sebuah perusahaan konstruksi energi terbarukan. Pengalaman kerjanya membuktikan bahwa bekal praktis dan sertifikasi kompetensi yang diperoleh dari SMK lebih menentukan karir daripada jenis kelamin. Ia bahkan sering diundang kembali oleh almamaternya untuk memberikan motivasi, menjawab pertanyaan kritis mengapa perempuan juga sukses, dan membuktikan kepada orang tua bahwa jurusan teknik adalah pilihan karir yang setara dan menjanjikan bagi semua.